Recent Movies

Kelas Kakap



Indo55bet  Hari Minggu seperti biasa adalah hari yang tidak sibuk, tidak banyak tamu yang datang di hari itu, maklum sebagian besar dari mereka lebih banyak dihabiskan bersama keluarga, kecuali mereka yang sedang dinas keluar kota. 

hari biasa kuterima rata rata 3-4 tamu tapi kalo di Hari Minggu paling banyak 2 tamu, malah terkadang hanya satu. Selama aku tinggal di hotel tak pernah kulewatkan hari tanpa tamu, tiada hari tanpa tamu. Entah itu karena kepintaran “marketing” Om Lok atau karena kepintaranku melayani tamu, aku tak tahu, tapi sesepi apapun pasti selalu ada laki laki yang memerlukan pelayanan dan kehangatan tubuhku.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 7:38 pagi, aku masih terlelap dalam tidur, kemarin tenagaku habis terkuras dengan banyaknya tamu yang memerlukanku, 5 tamu yang datang secara beruntun sejak pagi, hanya berselang tak lebih dari 45 menit tamu berikutnya sudah nongol di depan pintu kamar, benar benar hari yang melelahkan dan baru tidur hampir pukul 3 dini hari.

Telepon berbunyi, biasanya Om Lok membawakan masakan kesukaanku saat Hari Minggu seperti ini sambil menemaniku ngobrol dengan keluarganya, mungkin karena aku primadona yang menjadi andalan utama maka dia memperlakukanku dengan agak istimewa.

Ternyata kali ini dia tidak datang, malahan berpesan akan ada tamu pagi ini, sekitar jam 10 dia akan datang. Mataku masih berat, tubuhku terasa habis memikul beban berat, capek semua rasanya, tulangku seakan copot. Sebenarnya aku berencana memanggil Massage Service yang ada di hotel pagi itu, tapi keduluan instruksi dari Om Lok, dan seperti biasanya aku tak mungkin menolak.

Ingin kulanjutkan tidurku tapi aku takut kebabalasan, biasanya kalo Minggu begini aku memang bangun telat terkadang jam 10 bahkan jam 11, toh biasanya tamu akan datang setelah jam 12 atau bahkan sore.

Sambil ngedumel menahan kantuk yang masih bergelayut aku mandi, kurendam tubuhku dalam air hangat di bathtub, terasa nyaman. Pelarianku dalam capek adalah berendam di air panas, bisa lebih 30 menit kulakukan itu, kali ini aku ingin berendam lebih lama sambil mencoba aroma therapy rempah rempah yang diberi tamuku kemarin.

Pukul 9:50 ternyata tamuku sudah datang, diluar dugaanku ternyata orangnya relativ masih muda, tak lebih 40 tahun, penampilan simpatik dan cukup ganteng dibanding tamu lainnya. Aku terpesona akan penampilannya, beruntunglah aku hari ini, teriak hatiku, langsung hilang rasa capek yang masih menggelayutiku. Namanya Jevon, aku tak tahu apakah dia chinesse atau bukan, karena kulitnya yang kecoklatan tapi matanya sipit, tapi kini aku tak peduli lagi siapa tamuku.

Karena masih pagi, kami tidak terburu buru, bahkan masih sempat makan pagi bersama di kamar, kulayani dia sarapan seperti layaknya seorang istri yang melayani suaminya di meja makan, aku begitu antusias karena teringat saat saat indah dulu, suatu rutinitas membosankan saat itu tapi sungguh terasa mambahagiakan kalau aku mengingatnya.

Sudah lama aku tak melayani makan pagi seperti ini, ada kesenangan tersendiri bagiku dan ini membawaku terpengaruh suasana pagi yang ceria itu, meski yang kulayani sarapan pagi itu bukan suamiku, bahkan baru satu jam yang lalu kukenal.

Hampir satu jam kami melakukan acara makan dilanjutkan bersantai sambil nonton Doraemon, acara anak anak kesukaanku, karena berarti itu adalah Hari Minggu, dimana kebanyakan orang berkumpul bersama keluarga, terkadang aku menangis sendirian sambil nonton acara itu, teringat begitu ramai dengan anak anak tetangga kalau Doraemon sudah main.

Kuminta room boy membersihkan meja kamarku, mereka sudah mengenalku, makanya agak terheran ketika melihatku dengan seorang laki laki sepagi ini karena tak pernah ada tamu yang menginap di kamarku, tentu saja tak berani dia mengatakannya.

Sambil nonton kami duduk di sofa yang entah sudah berapa puluh kali kupakai bercinta, kami memang sangat santai saat itu, kukenakan celana pendek dan T-shirt putih snoopy, seperti dulu kalo aku di rumah, sungguh suasananya tidak seperti sedang bekerja, tapi seperti sedang berlibur di hotel bersama suami atau pacar, bahkan kubiarkan rambutku yang masih basah, sengaja tak kukeringkan.

Kusajikan snack seadanya yang ada di kamar dan kubikinkan kopi, sesekali kusuapkan ke mulutnya, aku terbawa suasana santai yang mengharukan. Perlahan tapi pasti tangan Jevon sudah mulai menjamah tubuhku, paha, punggung dan tubuh lainnya, tapi masih dalam batas normal seperti orang pacaran.

Ketika Doraemon sudah habis, dia mulai mencium pipiku, entah kenapa tiba tiba aku merinding dibuatnya, kutoleh dia dan dibalas dengan senyuman manis, dia mengangkat daguku, dipandangnya dalam dalam, dengan lembut bibirnya menyentuh bibirku, mesra sekali dia melumat bibirku, tiba tiba jantungku berdetak kencang, kurasakan sentuhan yang lain saat bibir kami beradu, begitu pula saat lidah kami saling menyapa lembut.

Pagi itu suasana hatiku begitu gembira, terlupa sudah capek semalam, tanganku mulai meraba raba pahanya, begitu juga rabaan tangan Jevon sudah sampai ke dadaku, dia mengelus mesra buah dadaku sambil kami tetap berciuman.

Tak lama kemudian dia melepas kaos yang kupakai, dipandanginya dadaku yang masih terbungkus bra putih, bra polos biasa yang tidak biasa kupakai kalau lagi terima tamu.

“Kamu cantik deh meski tanpa make up” pujinya lalu kembali menciumi pipi dan bibirku seraya memulai remasannya di dadaku.

Tanganku mengimbangi remasannya pada selangkangan, sudah tegang, kubuka sabuk dan reslitingnya, kususupkan tanganku ke dalam celana dalamnya dan kuremas remas kejantanannya, dia mendesah sambil menciumi leherku.

Kami saling melucuti pakaian sambil tetap berciuman, sepuluh menit kemudian kami sudah sama sama telanjang, kembali pujian keluar darinya, aku hanya tersenyum dengan sedikit bangga meski aku tak tahu apakah itu pujian tulus atau sekedar basa basi.

Jevon memapahku dan merebahkan ke ranjang, dilepasnya satu satunya penutup tubuhku, kusambut ciuman dan cumbuannya yang penuh kemesraan, tangannya mulai mempermainkan klitorisku ketika mulutnya mengulum liar putingku, aku mendesah nikmat.

Ciumannya turun ke perut diteruskan ke selangkangan, dia tidak langsung ke vaginaku tapi justru menciumi paha dan sekitar selangkangan, aku makin mendesah terbakar birahi, jeritku akhirnya keluar tak tertahankan ketika lidahnya menyentuh klitorisku, terasa nikmat sekali, apalagi ketika lidah itu menari nari menyusuri vagina, melayang aku dibuatnya, tak sadar kuremas remas rambutnya.

Aku tak tahan lebih lama lagi, kuminta ber-69 dengan begitu kami bisa saling memberi kenikmatan, hampir aku orgasme duluan kalau saja tidak dihentikan. Dia memandangku dengan senyum puas karena berhasil mempermainkan dan membawaku terbang melayang.

Aku sudah telentang menantinya, siap untuk melayani kemauannya, kali ini dengan senang hati, bukan seperti biasanya saat melayani tamu. Kusambut dan kupeluk tubuhnya ketika dia mulai menindihku, ciumannya mendarat di bibirku, sambil saling melumat dia menyapukan kepala penisnya ke vaginaku yang basah.

Aku mendesah tertahan saat penisnya menguak liang kenikmatanku, suatu kenikmatan menjalar dari vagina ke seluruh tubuhku, aku menegang sesaat merasakan kenikmatan itu, dan semakin nikmat dikala Jevon mulai mengocok perlahan penuh perasaan diiringi ciuman mesra, semakin cepat membawaku melayang tinggi.

Kujepitkan kakiku ke punggungnya, penisnya semakin dalam mengisi relung vaginaku, meski tidaklah terlalu besar tapi terasa begitu memenuhi ruangan kenikmatan tubuhku, aku mendesah lepas disaat kocokannya makin cepat.

Kupeluk erat tubuhnya, apalagi ketika dia menjilati telingaku, aku menggelinjang geli dan nikmat, semakin erat pelukanku.

Kakiku diangkat ke pundaknya, lebih dalam lagi penisnya menyodok, aku menjerit dalam kenikmatan yang tak bisa kugambarkan, terlalu indah permainan pagi ini hingga aku merengkuh puncak kenikmatan begitu cepat.

Jerit kenikmatanku mengiringi denyutan otot vagina yang meremas penis Jevon, dia menatapku tajam seakan menikmati expresi kenikmatan dari wajahku, malu juga aku dibuatnya, tapi dia hanya tersenyum melihatku orgasme.

Tanpa memberi istirahat Jevon membalik tubuhku, kuperhatikan dia memasangkan kondom yang bentuknya aneh, tapi tak kuperhatikan lebih lanjut karena dia sudah melesakkan penisnya kembali, kurasakan kenikmatan yang lain dari kondom itu, entah kondom macam apa yang dipakai, bagiku semakin nikmat saja.

Kami melakukannya dengan posisi dogie, posisi favoritku biasanya, tapi dengan Jevon aku membenci posisi ini karena tidak bisa melihat wajah tampannya, sodokan Jevon makin keras mengaduk aduk vaginaku, sungguh luar biasa pengaruh kondom itu terhadapku, antara geli, nikmat, sakit tapi semua bercampur menjadi desah dan jerit kenikmatanku.

Semakin keras aku mendesah semakin keras pula dia menyodokku, dan tak lama kemudian akupun mencapai puncak kenikmatan yang kedua kalinya dipagi itu.

Jeritan kenikmatanku tak menghentikan kocokannya, justru semakin cepat dan liar gerakannya, maka akupun dengan cepat segera naik kembali menuju puncak kenikmatan.

Belum setengah jam kami bercinta tapi aku sudah orgasme dua kali, sementara tamuku belum menunjukkan tanda tanda orgasme, malu aku untuk minta istirahat lagi, kutahan kenikmatan demi kenikmatan, dan orgasme lainnya menyusul tak lama kemudian.

Melihat aku kewalahan menghadapinya akhirnya dia memberiku istirahat lagi setelah hampir 45 menit mengocokku.

“Ih, kamu kuat banget deh, ampun aku” komentarku, dia hanya tersenyum tak menjawab.
Aku telentang mengatur napasku yang masih turun naik menderu, sendiku terasa ngilu.

“Kamu marah nggak kalo aku pakai tali?” tanyanya dengan ragu

“Maksudnya?”

“Kamu kuikat di ranjang, kalau kamu nggak keberatan sih, tapi kalo kamu nggak mau ya nggak maksa kok” jawabnya memelas.

Hampir saja emosiku naik, marah aku dibuatnya, permintaannya aneh bagiku, tapi karena dia minta dengan memelas begitu, apalagi dia telah memberiku kepuasan demi kepuasan, rasanya tak tega aku menolaknya, toh tak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru, tanpa menjawab aku langsung telentang dengan tangan dan kaki terbuka.

Kulihat wajahnya bersinar gembira, segera dia mengambil traveling bag yang tadi dia bawa, dikeluarkannya tali atau lebih tepatnya kain yang dipilin menyerupai tali, mungkin supaya tidak melukai kulit, dengan cekatan dia mengikat kedua tangan dan kakiku ke ke empat kaki ranjang.

Kini aku dalam posisi terikat tak berdaya telentang di ranjang, sungguh pengalaman baru bagiku merasakan ketidakberdayaan dihadapan laki laki yang belum kukenal lama.

Dalam posisi terikat kembali Jevon menjamah seluruh tubuhku, diciuminya pipi dan bibirku, menjelajahi seluruh tubuhku, lalu dia mengulum dan menyedot putingku, aku hanya bisa mendesah dan menggeliat nikmat, tak bisa membalas dengan pelukan atau lainnya, tak terasa dengan tidak berdaya seperti ini ada sensasi tersendiri, suatu sensasi dan kenikmatan yang tak terbayangkan sebelumnya, antara nikmat dan takut.

Kepala Jevon sudah berada di selangkanganku, kunaikkan pinggulku, dengan liarnya jilatannya menyusuri vaginaku, diselingi dengan kocokan dua jari, aku makin mendesah dan menggeliat tanpa bisa berbuat apa apa, tapi anehnya justru aku merasakan sensasi yang lain yang belum pernah kurasakan.

Dia kembali menindihku, dengan sekali dorong masuklah penisnya menembus vaginaku dan dikocoknya dengan cepat. Tubuhku dipeluk erat meski aku tak bisa membalas pelukannya, hanya desah kenikmatan yang bisa kuperbuat.

“Suka?” bisiknya di telingaku, malu menjawab karena memang aku mulai menyukai permainan ini, tapi dia medesakku sambil mengocokku makin keras.

“Bilang suka apa nggak? atau kulepaskan saja talinya”, kocokannya sudah menyodok rahimku semakin dalam dan semakin cepat. Sesaat aku tak bisa menjawab ya atau tidak, aku terlalu terhanyut dalam permainan baru, dia mendesakku terus sambil mempercepat kocokannya.

“Aaahh.. jangan.. jangaan.. jangan dilepas” hampir tak percaya kuucapkan itu ketika dia menghentikan kocokannya dan hendak melepas ikatan.

“OK, let’s the game begin”, katanya lalu dengan kasar dia mencabut penisnya, meninggalkanku yang terikat terbakar birahi setengah jalan menuju puncak kenikmatan, dia mengambil sesuatu dari tasnya.

Aku terkaget ketika dia menunjukkan dildo berwarna hitam legam menyerupai penis dengan accessories di pangkalnya, ukurannya sedikit lebih besar dari rata rata ukuran sebenarnya, tapi bentuknya mengerikan.

“Koh, apaan itu, jangan ah” setengah teriak aku mencegahnya

“Nggak apa, toh tidak lebih besar dari yang aslinya” hiburnya sambil mengusap usapkan ke vaginaku.

“Jangan Koh, aahh.. pakai asli ajaa.. aku.. aku.. nggak .. pernah me.. melakukannyaa.. aahh” protes bercampur desah setelah sebagian dildo itu memasuki vaginaku, jauh lebih besar dari perkiraanku, vaginaku terasa penuh.

“Coba dulu deh.. enak nggak”, bujuknya sambil perlahan memasukkan dildo makin dalam, aku menggeliat, ada rasa nikmat yang aneh kurasakan.

“Aaagghh.. sszz.. oouuww”, suatu kenikmatan tersendiri, terasa aneh tapi sungguh nikmat apalagi ketika dia memutar dildo itu, tak pernah kurasakan sebelumnya, lagian mana ada penis yang bisa berputar, aku menjerit nikmat, dia mulai mengocokkan dildonya, accessories pada pangkal dildo mengenai sisi vaginaku yang lain menambah kenikmatan tersendiri, jeritanku makin keras, tubuhku menggeliat tak karuan dengan tangan terikat seperti ini.

“Sekarang rasakan kenikmatan yang sesungguhnya” katanya, sedetik kemudian kurasakan dildo itu bergetar, kontan saja aku menjerit kaget, kupelototi Jevon yang menikmati expresi aneh wajahku, antara kaget, sakit, nikmat, tidak berdaya bercampur menjadi satu, tubuhku kelojotan seperti cacing kepanasan ditambah lagi dengan ikatan di kaki dan tanganku sungguh suatu siksaan kenikmatan tersendiri, tak pernah kurasakan kegelian pada vaginaku seperti ini.

“Koh, pleaassee.. tolong lepaskan aku.. pleaasessee”, desah dan teriak bercampur permohonan, permohonan untuk melepaskan ikatan bukan untuk menghentikan dildonya karena memang terasa nikmat yang aneh, aku menggeliat geliat tak karuan, tak bisa berbuat apa.

Sepertinya Jevon menikmati geliat tak berdayaku, kulihat sambil mengocok dildo getarnya dia meremas remas sendiri penisnya, sebenarnya bisa aja aku teriak keras minta tolong agar orang diluar kamar dengar, tapi ini sekedar permainan, permainan yang aku sendiri tak tahu harus menerima, menikmati atau menolak. Aku tidak disakiti secara fisik, tapi penyiksaan dalam bentuk lain, suatu penyiksaan sexual, tak tahu harus bagaimana aku menyikapinya, dan tak sempat aku berpikir bagaimana menyikapinya karena dildo itu begitu liar bergerak nikmat di vaginaku.

Ditinggalkannya dildo itu bergetar di vaginaku, dia berdiri mengangkangiku sambil mengocok penisnya dengan tangannya, wajahnya tajam menatapku yang sedang kelocotan merasakan dildo yang bergetar mengaduk vaginaku.

Desahanku sudah berubah menjadi jeritan yang aku sendiri tak bisa mengartikan apakah jeritan protes, marah atau nikmat.

Sepertinya dia menikmati ekspresi wajahku yang tidak berdaya, cairan penisnya mulai menetes di dadaku, geliatku makin tak beraturan, makin cepat dia mengocok penisnya dan.. dan.. menyemburlah spermanya mengenai muka, rambut dan tubuhku, aku teriak marah, merasa terhina, tapi dia hanya tersenyum sambil mengusapkan penisnya ke wajahku, memaksaku membuka mulut mengulumnya, terus menyusuri dada, lalu kakiku, tak kuasa aku menghindarinya sebelum meninggalkanku ke kamar mandi, dildo masih menancap di vaginaku, geli kenikmatan berubah menjadi kemuakan tapi tanganku tetap terikat tanpa daya, anehnya tak ada niatan untuk teriak minta tolong atas “pemerkosaan” ini.

Sungguh aku merasa terhina diperlakukan seperti ini, tetesan tetesan sperma membasahi hampir seluruh tubuhku, aromanya begitu menyengat, tak dapat kuhindari beberapa mengalir ke mulutku, aku mencoba menghindar tapi tak ayal lagi kurasakan juga gurihnya spermanya, kuludahkan sperma yang sempat masuk mulutku, perasaan jijik menyelimutiku, kalau saja dia memintaku baik baik untuk mengeluarkan sperma ke tubuhku seperti ini mungkin aku tak keberatan mengingat bagaimana aku tadi terpesona akan penampilannya.

Jevon duduk di sebelahku, diambilnya dildo dari vaginaku tanpa ada tanda tanda melepas ikatanku. Aku menghiba memelas untuk dilepaskan, tapi tak dipedulikan, malahan mengancam akan membungkam mulutku apabila aku teriak sampai terdengar dari luar.

Dia mengambil kain lain dari tasnya lalu ditutupkan ke mataku, semua kini menjadi gelap, aku merasa benar benar tak berdaya, kupikir ini sudah bukan lagi permainan yang menyenangkan, dengan mata tertutup aku tak tahu dia akan berbuat apa lagi terhadapku dan aku tak bisa menduga selanjutnya.

Sesaat tak kurasakan sentuhan atau gerakannya di atas ranjang, entah apa yang dilakukan dikamar ini. Tiba tiba kurasakan sentuhan dingin di putingku, aku terkaget, ternyata dia meletakkan es batu diputingku lalu dikulumnya, dinginnya es menyusur ke perut dan berhenti di vaginaku, aku menjerit tapi ada sensasi erotis tersendiri kurasakan, sedikit kenikmatan, kusesali kenapa dia melakukan dengan cara paksaan seperti ini, padahal belum tentu aku menolak permainan permainannya yang penuh kejutan.

Aku menjerit kaget bercampur nikmat saat kurasakan permainan lidahnya di sela dinginnya es pada klitoris dan vaginaku, kembali kurasakan dildo itu melesak masuk penisku bersamaan dengan jilatannya pada klitoris.

Dia sudah tidak mempedulikan permohonanku meski dengan menghiba minta ampun, sepertinya dia menikmati seperti kucing yang mempermainkan cecak, perlahan kenikmatan mulai menjalar, tanpa kusasari aku mulai menggoyangkan pantatku, tak dapat kuhindari meski aku benci melakukannya tapi aku juga tak ada cara untuk menghindar, asal tidak menyakiti secara fisik maka kubiarkan dia menghina dan mempermainkanku, toh aku sudah biasa diperlakukan secara hina oleh tamuku, meski tidak sekasar ini.

Pinggulku sudah turun naik tanpa bisa kukendalikan lagi, bahkan desahankupun sudah meluncur dengan sendirinya, aku seperti tak bisa lagi mengontrol emosi dan tubuhku, semua seakan berjalan sendiri sendiri mengikuti naluri sexual yang mulai terlatih.

Dia mencabut dildonya, aku menunggu kejutan lainnya dengan harap harap cemas, lama tak ada suara atau gerakan, akhirnya kurasakan dia menindihku dan menyapukan penisnya ke vaginaku, kembali terkaget aku dibuatnya ketika penisnya memasuki vaginaku, terasa begitu besar, panjang, dan kasar menggesek dinding vaginaku, tak mungkin itu penisnya, pasti dia sedang berbuat sesuatu terhadapku. Dengan ganas menciumi leher dan buah dadaku disertai gigitan gigitan ringan pada puting, aku hanya berharap dia tidak meninggalkan bekas memerah di leher dan dada, kalau itu terjadi tentu akan menurunkan “harga jualku”.

“Penisnya” makin cepat mengocokku, rasa aneh yang kurasakan di vagina ternyata membuatku makin tinggi melayang nikmat, dan tak dapat kuhindari ketika aku menjerit orgasme, sungguh memalukan orgasme tapi dalam keadaan marah, napasku tersengal turun naik, antara marah dan nikmat sehabis orgasme.

Jevon masih tetap mencium dan mengocokku, justru makin ganas, vaginaku sudah terasa memar dan sedikit perih, mungkin lecet.

Jevon menukar posisi ikatan tanganku setelah melepas ikatan di kaki, posisiku kini tengkurap tanpa ikatan kaki tapi mata tetap tertutup.

Terlalu lemas aku untuk melakukan perlawanan, dia menarik pantatku naik hingga posisi nungging, kurasakan lidahnya menjilati vaginaku bersamaan dengan jari tangannya mempermainkan lubang anus, aku bertekad akan teriak apabila dia memaksakan untuk memasukkan penisnya ke dubur, itu sudah menjadi prinsipku bahwa tak akan pernah melakukan anal.

Sesaat kemudian dia langsung melesakkan kembali “penisnya” yang aneh itu, kembali rasa nyeri bercampur nikmat menyelimutiku, desahan demi desahan mengiringi kocokannya. Sepuluh menit kemuian kudengar jeritan orgasme darinya, tapi aku terheran karena tidak ada denyutan dari “penis” yang masih meluncur di vaginaku, justru pantatku terasa hangat terkena cairan, dan “penis” itu masih tetap keras tegang bersemayam di vaginaku, aku tak tahu apa yang terjadi.

Suasana sunyi kecuali desah napas kami berdua, dia melepaskan tutup mata dan ikatanku.

Aku masih tetap telungkup telanjang, diam saja menahan marah, beberapa pertanyaannya hanya kujawab ya dan tidak.

Baru kusadari ternyata saat dogie tadi dia mengocokku dengan dildo yang lain lagi yang diikatkan di pinggangnya, mungkin sambil mengocokkan dildonya dia bermasturbasi di atas pantatku sehingga kurasakan cairan hangat saat dia orgasme.

Berkali kali dia minta maaf atas perbuatannya, aku diminta mengerti akan kelainan sexualnya.

Tak ada jawaban dariku, tetap diam membisu, aku tak peduli apakah dia marah, tersinggung atau tidak puas.

Dalam hati aku berjanji tak akan menerima dia lagi meski dengan imbalan berupa apapun, cukup sekali aku diperlakukan seperti ini, kali ini mungkin dia hanya mengikat dan mempermainkan dildonya, namun siapa tahu lain waktu dia berbuat lebih jauh lagi saat ada kesempatan dan dengan terikat begitu tentu aku tak bisa berbuat apa apa, hanya pasrah menerima perlakuannya.

Kutinggalkan Jevon saat membereskan “mainannya”, sengaja berlama lama di kamar mandi yang pintunya kukunci, padahal tak pernah aku menutup apalagi mengunci saat mandi.

Aku keluar setelah dia hendak berpamitan pulang, biasanya kuantar tamuku hingga keluar pintu kamar sambil masih telanjang atau berbalut handuk di dada, tapi kali ini aku sudah kembali rapi berpakaian lengkap melepas kepergiannya, masih tetap membisu, tak ada bujuk rayu untuk kembali lagi seperti terhadap tamu lain yang telah mempesonaku.

Segera kuhubungi Om Lok, memprotes tamu itu, tapi dia hanya tertawa saja, akhirnya dia adalah orang pertama yang masuk “black list” dalam daftar tamuku, meskipun tip yang diberikan sebesar apa yang kudapat dari Om Lok, tapi resiko dan pengorbanannya terlalu besar.

Cerita sesungguhnya aku potong banyak karena jauh lebih sadis dan mengerikan, ada permainan lilin yang diteteskan ke tubuhku, pisau yang ujungnya dijalankan ke seluruh tubuhku, meski tidak sampai melukai tapi cukup menakutkan. Mungkin pembaca tidak tertarik, jadi tak perlu kuceritakan karena aku sendiri masih trauma dan ngeri saat menulis kisah ini.




Kesucian Valentine



Indo55bet  Ayahku keturunan Barat dan ibuku keturunan Chinese. Perpaduan ini yang membuatku menjadi seorang gadis tinggi ramping, berkulit putih dan walaupun tubuhku tidak terlalu seksi, bisa kututupi kekurangan itu dengan wajahku yang kata orang menawan. 

Tentu saja aku senang mendengarnya, apalagi ketika Remon mengatakan kalau bibirku benar-benar menggoda. Memang sih aku belum pernah tidur dengan seorang pria, tetapi kalau soal yang begituan aku cukup ahli, yah mungkin ketularan sama omes-nya (otak mesum) Remon dan teman-temannya yang tidak kalah omes. Jadi kesimpulannya, aku juga termasuk ahli di bidang begituan.

Hari itu, kira-kira jam 4 sore tanggal 12 Februari tahun ini, aku jalan-jalan bersama Precill dan Yuli. Kami memang sedang mencari sesuatu yang dapat kami berikan ke cowok yang paling dekat dengan kami, kan 2 hari lagi Valentine, jadi harus memberikan yang istimewa donk.

Setelah sekitar 2 jam berkeliling mencari barang yang cocok, aku akhirnya menyerah. Aku sama sekali tidak mendapatkan barang yang benar-benar spesial untuk cowokku.

Akhirnya kuputuskan untuk mencari di tempat lain saja besok. Aku pulang tanpa membawa apa-apa, berbeda dengan Precill dan Yuli yang sudah mendapatkan yang mereka cari. Aku memang susah mencari barang untuk Remon, dia tuh orangnya senang yang romantis dan sedikit berbau omes gitu lah.Tetapi aku yakin, aku akan mendapatkan sesuatu untuknya. Kan kalau kita mau usaha, pasti kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan.

Singkat cerita, aku sama sekali tidak mendapatkan apa-apa, bahkan besoknya juga aku masih tidak mendapatkan apa-apa.

Aku tidak mau memberikan sesuatu yang biasa, kupikir lebih bagus aku tidak memberikan sama sekali daripada kuberikan sesuatu yang biasa di hari yang spesial nanti.

Ternyata Remon sudah berinisiatif lebih dulu, dia mengajakku candle light dinner. Tepat seperti dugaanku, dia memang suka keromantisan, kami hanya makan sedikit terus minum sedikit dan kami sempat slow dance dulu sebelum akhirnya duduk lagi, hanya duduk dan saling memandang.

Tidak tahu karena aku terbawa suasana atau memang si Remon jago (muji gue lagi nih), yang jelas aku benar-benar menikmati malam itu. Remon memberikan kalung cantik dan dia memasangkan di leherku.

Terus diciumnya pipiku dari belakang sambil berkata,

“Biar hari ini jadi hari yang lo kenang selama hidup lo. dan gue harap lo juga inget siapa yang ada di sini ngerayain hari Valentine ini sama lo”

Tak tahu kenapa, Remon melakukan sesuai dengan apa yang kuharapkan, hingga aku akhirnya menemukan sesuatu yang spesial untuk kuberikan kepadanya. Kuajak dia ke rumahku, aku tahu persis orangtuaku tidak ada di rumah, dan di rumah hanya ada si Iyem saja.

Sampai di rumah, Remon duduk di kursi tamu seperti biasa dan kubawakan minuman untuk dia. Ketika aku balik lagi, Remon sedang melihat-lihat album fotoku.

Dia tersenyum ketika melihat fotoku ketika masih kecil. Ketika aku datang dia langsung tersenyum ke arahku. Kuletakkan minuman di meja dan bilang kalau aku tidak dapat memberikan apa-apa di hari Valentine ini, tetapi aku punya sesuatu yang spesial buatnya di hari spesial ini.

Aku duduk di sebelah Remon, kubiarkan Remon memelukku dan menciumku. Bibirnya lembut membasahi bibirku, terus dia mengambil sirup di meja dan pura-pura menumpahkannya di bajuku.
Kami berdua tertawa bersama, terus dia berkata,

“Ups.., sorry ya. Mendingan lo ganti baju dulu, nanti masuk angin kalo pake baju basah gini.”

Aku tahu Remon memang sengaja, dia mau mengajakku ke kamar. Deg-degan juga sih, tetapi aku sudah bertekad kalau aku harus dapat memberikan yang spesial buatnya hari ini.

Rupanya Remon sudah tahu kalau aku memang mau memberikan sesuatu yang sudah 17 tahun kujaga baik-baik. Yap, aku memang memilihnya untuk mengambil kesucianku.

Kurasa memang dia orang yang tepat. Aku ke kamar, dan seperti yang kuduga dan kuinginkan, Remon mengikutiku. Terus dia duduk di ranjangku memperhatikanku jalan ke arah lemari pakaianku.

Aku cuek saja buka baju di depan dia, tetapi waktu aku mau membuka BH-ku, Remon memelukku dari belakang sambil berkata, “Biarkan malam ini berjalan lambat, jangan habiskan waktu terlalu cepat.”

Aku menurut saja, kubiarkan dia mencium leherku, bahuku dan akhirnya menggendongku ke tempat tidur.

Remon masih belum puas bermain dengan bibirnya, dia menciumku dua kali, dan begitu kusadar, tahu-tahu BH-ku sudah hilang, tidak tahu kemana.

Aku tidak sadar kapan Remon membuka BH-ku itu, yang jelas sekarang dadaku sudah telanjang. Mungkin karena aku terlalu terbawa suasana.

Remon mulai bosan bermain dengan bibirnya, kali ini dia menggunakan lidahnya menjilati puting buah dadaku. Lembut dan membuatku enak kegelian.

Aku hanya memejamkan mata sambil merasakannya menjilat dan sesekali menghisap putingku. Tiap kali dia hisap seperti ada setrum di badanku, aku selalu menggeliat menahan geli.

Aku tidak bosan-bosan merasakan enaknya permainan lidah Remon. Entah berapa lama aku terdiam merasakan nikmatnya sentuhan demi sentuhan dari bibir dan lidahnya.

Ternyata bersamaan dengan lidahnya bermain, tangan Remon tidak tinggal diam. Soalnya waktu kubuka mata, aku kaget sekali, ternyata aku sudah telanjang bulat, dan Remon hanya menggunakan celana dalam saja. Hebat juga dia bisa menenlanjangiku dan melepas pakaiannya tanpa dapat kuketahui.

Kucoba untuk bangun, tetapi badanku terasa lemas, aku sama sekali tidak bertenaga.

Aku tidak dapat berbuat apa-apa ketika Remon mulai turun terus mencium pusarku.

Terus tangannya membuka pahaku lumayan lebar. Aku merasa malu juga ketika Remon melihat vaginaku. Remon tidak lama-lama melihatnya, dan tidak lama dia sudah menjilati bibir kemaluanku.

Lebih gila lagi, ternyata ketika dia menjilat vaginaku, rasanya jutaan kali lebih nikmat dari permainannya di puting payudaraku. Dia menjilat beberapa kali, terus dia menjilat klitoris-ku.

Ini lebih hebat lagi, soalnya tanpa sadar aku mendesah. Sebenernya lebih mirip teriak keenakan ketika lidahnya pertama kali menyentuh klitorisku yang memang super sensitif.

Gila, ternyata Remon tidak hanya menjilatnya beberapa kali,gairah sex tetapi berkali-kali, terus dia memelintir perlahan klitoris-ku.

Wah, itu sih tidak dapat dijelaskan, yang jelas badanku refleks kejang dan aku menjambak rambutnya tanpa sadar. Tetapi ketika rasa kesetrum itu mulai hilang, aku malah ingin lagi.

Ternyata Remon tahu, dia memelintir lagi klitoris-ku sekali lagi dan seperti sebelumnya, aku kejang lagi. Terus dia malah lebih gila lagi, digosok-gosokkannya klitorisku dengan ujung jarinya.

Aku tidak tahan kejang-kejang, tetapi Remon memegang pinggangku, jadi aku tidak dapat bergerak bebas.

Rasa nikmat itu lalu memuncak dan aku tidak sadar lagi, semua terasa gelap dan badanku kejang-kejang tidak karuan tanpa dapat kukontrol.

Aku tahu aku sudah sampai puncak, dan begitu kusadar lagi, Remon sudah menggosok-gosok kepala penisnya yang besar sekali ukurannya.

Aku tidak yakin penis sebesar itu dapat masuk ke vaginaku, ada juga sih rasa takut. Tetapi aku sudah bertekad, aku akan memberikan kesucianku untuk Remon.

Remon terus menekan sedikit penisnya. Bibir kemaluanku terasa terbuka, dan akhirnya kurasakan kepala penisnya di bagian luar vaginaku.

Remon terus mencium bibirku dan membuka pahaku lebih lebar, kututup mataku, siap menerima apa yang akan terjadi. Ternyata tidak terjadi apa-apa, sialnya ketika kubuka mata, Remon sedang menekan penisnya kuat-kuat ke vaginaku. Kontan saja aku berteriak, lumayan kencang juga.

Belum habis rasa kagetku, Remon menyodok lagi penisnya ke vaginaku, perih sekali rasanya. Sepertinya badanku terbagi dua karena robek disodok penis sebesar itu.

Tetapi rasa sakit itu berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi rasa nikmat yang tidak kalah dari rasa nikmat ketika Remon memelintir-melintir klitoris-ku. Remon mulai goyang maju mundur pelan-pelan, tetapi kerasanya hebat sekali ketika penisnya menggosok-gosok dinding vaginaku.

Sepertinya tidak ada ruangan kosong lagi di vaginaku, semua terasa sudah sesak disodok-sodok. Aku mencoba untuk menahan sakit dan itu berhasil. Rasa sakit itu berubah menjadi sengatan-sengatan listrik yang membuatku ingin lagi disodok-sodok.

Melihatku mulai tenang, Remon tambah mempercepat mengocok vaginaku yang sudah banjir karena basah. Aku hanya dapat memejamkan mata dan mendesah-desah menikmati permainan Remon.

Yang jelas aku bener-bener hanyut dalam suasana itu. Tiba-tiba Remon bergerak semakin cepat dan ada sengatan yang lebih nikmat lagi dari dalam vaginaku.

Sepertinya aku akan mencapai puncak lagi, dan aku sudah tidak sabar menunggu saat indah itu. Remon semakin cepat dan liar mengocok vaginaku. Sama sekali sudah tidak ada iramanya lagi.

Tanpa sadar aku mulai berteriak-teriak kecil menikmati semuanya itu. Terus akhirnya semua gelap, aku kejang-kejang lagi seperti tadi.

Aku baru sadar waktu ada sesuatu yang hangat di perutku, dan waktu kubuka mata, Remon sedang mengocok-ngocok penisnya dengan tangannya dan dari penisnya muncrat cairan putih kental ke perutku.

Kubiarikan Remon memuncratkan maninya sampai habis, baru aku berusaha bangun. Aku pusing sebentar, tetapi terus hilang. Remon membersihkan badannya di kamar mandi, terus menghampiriku yang sudah menggunakan pakaian lengkap.

Remon mencium keningku, terus dia duduk di sebelahku, meremas jariku sambil bilang kalau dia puas sekali dan dia bilang aku tidak akan kecewa memilihnya.

Aku percaya kalau Remon serius, aku tahu dia bukan orang yang suka mempermainkan cewek. Aku yakin pilihanku kali ini benar. Pasti benar deh.

“Thank’s buat hadiahnya, ini bener-bener hadiah yang tidak ternilai buat gue.” kata Remon, terus menciumku lagi.

Kemudian dia membantuku ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Aku benar-benar lemas, dan ketika Remon ingin pulang, aku hanya mengantarnya sampai pintu depan saja, tidak sampai gerbang.

Terus ketika Remon sudah pulang, kukunci pintu dan terus aku roboh di sofa. Aku lemas sekali dan tidak ingat apa-apa.

Waktu kubangun pagi, aku benar-benar kaget, soalnya aku masih telanjang. Aku langsung lari ke kamar dan pakai baju. Aku terus duduk di ranjang.

Ada sisa-sisa rasa pedih di selangkanganku, tetapi rasa pedih itu kalah dengan kenangan nikmat tadi malam. Benar-benar malam yang spesial untukku dan kuharapkan malam yang spesial juga untuk Remon.



Kiriman Pembaca, Di Atas Meja Kelas



Kiriman Pembaca, Di Atas Meja Kelas


Indo55bet  Berpakaian minim, memberi support kepada tim sekolahku adalah hal yang biasa… ya..aku adalah anggote cheerleader. 

Suatu waktu pada tengah2 pertandingan, salah satu pemain cadangan tim SMA 8 tersenyum padaku …. 

Dia bukannya melihat teman2nya bermain, melainkan memandangiku terus. Ketika quarter pertama usai, dia datang menghampiriku, dan kami berkenalan … sebut saja namanya Indra. 

Setelah kami berkenalan, lalu kami bercakap2 sebentar di kantin sma.

Setelah tidak berapa lama … tiba2 dia berbisik di telingaku, katanya ,

“Kamu cantik sekali deh Shinta ..” sambil matanya tertuju pada belahan dadaku … mukaku langsung merah … kaget dan dadaku berdetak kencang. Tiba2 terdengar suara
“PRITTTTTTTT….!!!” tanda bahwa quarter ke-2 akan dimulai … aku langsung mengajaknya balik ke lapangan.

Dalam perjalanan ke lapangan, kami melewati kelas2 kosong … tiba2 dia menarik tanganku masuk ke dalam kelas 3 IPA 1 … lalu dia langsung menutup pintu … aku langsung bertanya padanya,
“ada apa indra … quarter ke-2 udah mau mulai nih … kamu gak takut dicariin??”. 

Dia tidak membalas pertanyaanku, melainkan langsung memelukku dari belakang, dan dia berbisik lagi padaku,

“Badan kamu bagus ya sekali ya Shin ..” Aaaahhhh. aku tak bisa berbuat apa2 selain berbalik badan dan menatap matanya …. dan tersenyum padanya.

Dia langsung mencium bibirku dan aku yang belum pernah berciuman dengan laki-laki, tidak bisa berbuat apa2 selain membiarkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. 

Setelah kira2 5 menit bercumbu, mulai tangannya meraba dan meremas dadaku…aku pasrah saja padanya, karena terus terang aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini. 

Tangannya masuk kedalam baju cheers no.3 ku itu, dan mulai memainkan puting payudaraku, lalu dia menyingkapkan bajuku dan memeloroti rokku hingga aku tinggal mengenakan BH dan celana dalam saja.

Lalu ia membuka baju basket dan celananya, sehingga ia hanya mengenakan celana dalam saja. Tampak jelas padaku bahwa “burung”-nya sudah tegang dibaik celana dalamnya. 

Ia memegang tanganku dan menuntun tanganku kedalam celana dalamnya. Aku merasakan “burung”-nya yang besar dan tegang itu dan ia memintaku untuk meremas-remas burungnya itu. 

Ia memaksaku untuk membuka celana dalamnya, setelah aku membuka celana dalamnya, tampak jelas burungnya yang sudah ereksi … besar juga pikirku … hampir sejengkal tanganku kira2 panjangnya.

Baru sekali itu aku melihat kemaluan laki-laki secara langsung, biasanya aku hanya meihat dari “Blue” film saja kalau aku diajak nonton bersama teman2 dekatku. 

Ketika aku masih terpana melihat burungnya, dia melepas BH dan celana dalamku, tentu saja dengan sedikit bantuanku.

Setelah ia menyingkirkan pakaian dalamku, badannya yang tinggi dan atletis layaknya sebagai seorang pemain basket itu, menindih badanku diatas meja kelas dan ia mulai menjilati puting payudaraku sampai aku benar2 menggeliat keeenakan, kurasakan basah pada bibir kemaluanku, aku baru tau bahwa inilah yang akan terjadi padaku kalau aku benar2 terangsang. 

Lalu tangannya yang kekar itu mulai meraba bibir kemaluanku dan mulai memainkan klitorisku sambil sesekali mencubitnya. Aku yang benar2 terangsang tidak bisa berbuat apa2 selain mendesah dan menggeliat di atas meja.

Cukup lama ia memainkan tangannya pada kemaluanku, lalu ia mulai menjilati bibir bagian bawah kemaluanku dengan nafsunya, tangan kanannya masih memainkan klitorisku. 

Tak lama aku bertahan pada permainannya itu, kira-kira 5 menit kemudian, aku merasakan darahku naik ke ubun2 dan aku merasakan sesuatu kenikmatan yang amat sangat nikmat, badanku meregang dan aku merasakan cairan hangat mengalir dari liang kemaluanku itu, Indra tanpa ragu menjilati cairan yang keluar sedikit demi sedikit itu dengan nafsunya sampai hanya air liurnya sajalah yang membasahi kemaluanku itu.

Badanku terasa lemas sekali … lalu Indra duduk di atas pinggir meja dan memandangi wajahku yang sudah basah bermandikan keringat. Ia berkata padaku sambil tersenyum,

“Kamu cape banget ya Shin …” Aku hanya tersenyum. Dia mengambil baju basketnya dan mengelap cucuran keringat pada wajahku, aku benar2 kagum padanya,

“Baik banget nih laki-laki” pikirku … Seperti sudah mengerti, aku jongkok di hadapannya, lalu mulai mengelus ngelus burungnya, sambil sesekali menjilati dan menciuminya, aku juga tak tau bagaimana aku bisa bereaksi seperti itu, yang ada di pikiranku hanya membalas perbuatannya padaku, dan cara yang kulakukan ini pernah kulihat dari salah satu film yang pernah kutonton.

Indra hanya meregankan badannya ke belakang sambil mengeluarkan suara2 yang malah makin membuatku ingin memasukkan burungnya ke dalam mulutku, tak berapa lama kemudian aku memegang pangkal kemaluannya itu dan mulai mengarahkannya masuk kedalam mulutku, terasa benar ujung burungnya itu menyentuh dinding tenggorokanku ketika hampir semua bagian batang kemaluannya masuk kedalam mulutku, lalu aku mulai memainkan burungnya didalam mulutku, terasa benar kemaluanku mulai mengeluarkan cairan basah lagi tanda kalau aku sudah benar2 terangsang padanya.

Kira2 5 menit aku melakukan oral sex pada Indra, tiba2 badan Indra yang sudah basah dengan keringat itu mulai bergoyang goyang keras sambil ia berkata.

“aaaaarghhh…..aku udah gak tahan lagi nih Shin.. aku mau keluarr…” aku yang tidak benar2 memerhatikan omongannya itu masih saja terus memainkan burungnya, sampai kurasakan cairan hangat kental putih dan rada asin muncrat dari lubang kemaluan Indra, aku langsung mengeluarkan burungnya itu dan seperti kesetanan, aku malah menelan cairan spermanya, dan malah menghisap burungnya sampai cairan spermanya benar2 habis.

Aku duduk sebentar di bangku kelas, dan kuperhatikan Indra yang tiduran di meja sambil mencoba memelankan irama nafasnya yang terengah-engah itu.

Aku hanya tersenyum padanya, lalu Indra bangun dan menghampiriku. 

Dia juga hanya tersenyum padaku. 

Cukup lama kami berpandangan dengan keadaan bugil dan basah berkeringat.

“Kamu cantik dan baik banget ya Shin” katanya tiba2 aku hanya tertawa kecil dan mulai mencium bibirnya. Indra membalas dengan nafsu sambil memasukkan tangannya kedalam lubang kemaluanku cukup lama kami bercumbu, lalu ia berkata,

“Shin boleh nggak aku emm itu”

“itu apa Ndra ??” tanyaku.

“Itu .. masa kamu gak tau sih ??” balasnya lagi.

Sebelum aku menjawab aku merasakan kepala batang kemaluanya sudah menyentuh bibir kemaluanku cresttt creesttt creeesssstttt  terasa ada yang terobek dalam kemaluanku dan sedikit darah keluar kemudian indra berkata...

“shin kamu ternyata masih perawan !!!”

aku hanya bisa tersenyum dan merasakan sedikit perih di kemaluanku terasa agak serat waktu setengah kemaluanya masuk ke vaginaku. 

digerak-gerakan perlahan batang kemaluanya yang besar tapi setelah agak lama entah mengapa rasa sakit itu hilang dan yang ada hanya ada rasa geli, enak dan nikmat ketika indra menggoyangkan badannya maju mundur pelan pelan aku tak tahan lagi seraya mendesah kecil keenakan..

kemudian semakin cepat saja indra memainkan jurusnya yang maju mundur sesekali menggoyangnya kekiri kekanan.dan dipuntir- puntir putingku yang pink yang semakin membuatku menggelepar gelepar seperti ikan yang dilempar kedaratan.

Keringat sudah membasahi badan kita berdua aku sadari kalau saat itu tindakan kita berdua bisa saja dipergoki orang tapi aku rasa kemungkinanya kecil karena kelas itu agak terpencil.. 

Ahhhh ahhhh ahhh aku mendesah dengan suara kecil karena takut kedengarann orang lain ..k

ullihat tampang indra yang menutup matanya dan terenggah- engah nafasnya. 

cukup lama juga indra bermain denganku memang benar kata orang kalau atlit itu kuat dalam bersenggama...

“ ..ahhhhh awww..awwww” geli dalam lubang kemaluanku tak tertahankan tiba-tiba kurasakan seuatu yang lain yang belum pernah kurasakan, cairan hangat kurasakan muncrat dari dalam vaginaku .oh itu mungkin yang kata orang orgasme pikirku..badanku terasa rileks sekali dan mengejang. 

ditutup mulutku oleh indra mungkin ia takut kalu aku mendesah kekerasan.

Meja kelas yang agak tua itu bergoyang goyang karena ulah kita berdua .

aku masih merasakan bagimana indra berusaha untuk mencapai puncak organsmenya iya lalu duduk di bangku dan menyuruhku untuk duduk di kemaluan nya .

aku menurut saja dan pelan-pelan aku duduk di kemaluannya .

Indra memegang pinggulku dan menaik turunkan diriku .aku merasakan belum pernah aku merasakan kenikmatan yg seperti ini .aku mendesah desah dan indra semakin semangat menaik turunkan diriku .lalu badan indra mengejang dan berkata,

“shin aku mau keluarrrrrr ” sekarang malah giliranku yg semangat memacu gerakan tubuhku agar indra bisa juga mencapai klimaks nya.

tapi lama indra mengeluarkan burungnyna dan terdengar ia mendesah panjang,

“Ahhhhhh shin ..aku keluar .ku liat air maninya kececeran di lantai dan sebagian ada yg ke meja .lalu kami berdua duduk lemas dengan saling berpandangan. ia berkata,

“kamu nyesel yah shin?” aku menggeleng sambil berkata,

“ngak koq ndra .sekalian buat pengalaman bagiku .”

Aku teringat kalo orang orang di luar kelas sangat banyak yg menonton pertandingan lalu aku buru buru mengenakan pakaianku dan menyuruh indra juga untuk memasang pakainnya .sebelum keluar iya bertanya padaku,

“shin kapan kita bisa ‘begituan’ lagi? Dan aku menjawab terserah kamu ndra.

tapi nanti setelah pertandingan selesai kamu tunggu aku yah di pintu gerbang lalu nanti kita jalan jalan..” 

Ia tersenyum dan mengangguk lalu kami berdua keluar kelas dan sengaja berpisah ..

Begitulah pengalamanku, tak kusadarai ternyata melakukan hubungan seks itu sangatlah nikmat dan aku berniat untuk merasakannya lagi..



SPG HOT




Indo55bet Begitu rasanya malas sekali karena pagi itu aku berangkat ke kantor pagi seklai karena banyak kerjaan yang menumpuk dan yang tidak enaknya saat berangkat di tengah jalan hujan turun deras sekali, karena tidak ingin basah kuyup jadinya aku berteduh di sekitar warung terdekat. 

Ibu permisi numpah berteduh Entah gak tau aku siapa namanya saat itu, hujan mendadak turun tanpa ada pertanda mendung.

“Gak apa apa dik silahkan berteduh nunggu hujan reda kalau di lanjut perjalanannya malah basah kuyup, jawab ibu pemilik warung tersebut.

“Saya pesan kopi susunya Bu, jangan banyak-banyak gulanya ya,” pintaku setelah mengambil duduk dalam warung itu. Sambil menunggu pesananku, kuamati pemandangan sekeliling warung itu.

Warung tempat kuberteduh terlihat sangat rapi dan bersih, walaupun ukurannya kecil. Sungguh, aku baru kali itu singgah disana, meskipun sehari-hari kerab melintasi jalan di depannya.

Pagi itu, ada tiga orang yang turut berteduh sambil sarapan, Kelihatannya mereka itu sopir dan kenek angkot yang pangkalannya tak seberapa jauh dari warung itu.

Belum lagi kopi susu yang kupesan tiba dihadapanku, kulihat dua wanita muda masuk ke warung.

“Uhh, gila hujannya ya Fin.., untung sudah sampai sini,” kata yang berbadan agak gemuk pada temanya yang lebih langsing.

Dari penampilan mereka aku bisa menebak kalau mereka adalah sales promotion girl (SPG), dibelakang baju kaos yang mereka pakai ada sablonan bertulis Susu Siip produk susu baru buatan lokal.

Keduanya langsung duduk dibangku panjang tepat di depanku.

“Ini Dik kopi susunya, apa nggak sekalian pesan sarapan Dik?” ibu pemilik warung membawakan pesananku.

“Makasih Bu, ini saja cukup. Saya sudah sarapan kok,” jawabku, Ibu itu pun berlalu, setelah sempat menawarkan menu pada dua wanita muda dihadapanku.

“Hm maaf Mas, apa tidak mau coba susu kami?” sebuah suara wanita mengejutkan aku.

Hampir saja aku tersedak kopi yang sedang kuseruput dari cangkirnya, sebagian kopi malah tumpah mengotori lengan bajuku.

“Duh maaf, kaget ya Mas. Tuh jadi kotor bajunya,” wanita yang agak gemuk menyodorkan tisue kepadaku.

“Ohh, nggak apa Mbak, makasih ya,” kuterima tisue pemberiannya dan membersihkan lengan bajuku.
“Maaf, susu apa maksud Mbak?” aku bertanya.

“Hik.. Hik.. Mas ini rupanya kaget dengar susu kita Fin,” canda sigemuk, si langsing tersenyum saja.

“Ini loh Mas, susu siip. Susu baru buatan lokal tapi oke punya. Harganya murah kok, masih promosi Mas, ada hadiahnya kalau beli banyak,” si langsing menjelaskan, ia juga menerangkan harga dan hadiahnya.

Sebenarnya aku ingin lebih lama diwarung itu supaya bisa lebih lama bersama dua wanita SPG susu itu, tapi nampaknya hujan sudah mulai berhenti dan aku harus melanjutkan perjalanan karena waktunya sudah mepet & Pekerjaan dikantor masih menunggu tuk diselesaikan.

“Saya tertarik Mbak, tapi kayaknya saya harus lanjutkan perjalanan nih, tuh hujannya sudah berhenti. Emm, gimana kalau saya kasih alamat saya, ini kartu nama saya dan kalau boleh Mbak berdua tulis namanya disini ya,” kusodorkan selembar kartu namaku sekaligus meminta mereka menulis namanya dibuku saku yang kubawa.

“Oh Mas Andy toh namanya. Pulang kerjanya jam berapa Mas biar bisa ketemu nanti kalau kami kerumahnya,” si gemuk yang ternyata bernama Luna bertanya sambil senyum-senyum padaku.

“Jam empat sore juga saya sudah dirumah kok. Mbak Luna dan Mbak Wanda boleh kesana sekitar jam itu, saya tunggu ya,” jawabku. Wanda yang langsing juga tersenyum.

Aku kemudian membayar kopi susu pesananku dan meninggalkan warung, untuk segera menuju ke kantor. Jam 3 sore aku sudah menyelesaikan laporanku yang menumpuk, dan aku langsung pulang kekontrakanku.

Oh ya umurku saat itu sudah menginjak 28 tahun, aku coba mandiri merantau dikota kembang ini. Kuputar lagu-lagu melankolisnya Katon Bagaskara di VCD Player sambil kunikmati berbaring dikasur kamarku.

Foto Lusi kupandangi, pacarku itu sudah tiga minggu ini pindah ke Jakarta, bersama pindah tugas bapaknya yang tentara.

Kayaknya sulit melanjutkan tali kasih kami, apalagi jarak kami sekarang jauh.

Dan sepertinya ini takdirku, berkali-kali gagal kawin gara-gara terpisah tiba-tiba, jadi jomblo sampai umur segitu.

Membayangkan kenangan manis bersama Lusi, aku akhirnya lelap tertidur ditemani tembang manis Katon.

Sampai akhirnya gedoran pintu kontrakan membangunkanku.

 Astaga sudah jam setengah 5 sore, aku segera membukakan pintu utama kontrakanku untuk melihat siapa yang datang.

“Sore Mas Andy, duh baru bangun ya? Maaf ya mengganggu lagi,” ternyata yang datang Luna dan Wanda, SPG Susu yang kujumpai pagi tadi.

“Oh Mbak Luna dan Mbak Wanda.., saya pikir nggak jadi datang. Silahkan masuk yuk, saya basuh muka sebentar ya,” kupersilahkan mereka masuk dan aku kekamar mandi membasuh mukaku.

Sore itu Luna dan Wanda tidak lagi menggunakan seragam SPG, mereka pakai casual.

Luna walau agak gendut jadi terlihat seksi mengenakan jeans ketat dipadu kaos merah ketat pula, sedangkan Wanda yang langsing semakin asyik pakai rok span mini dipadu kaos kuning ketat.

Rumah kontrakanku type 36, jadi hanya ada ruang tamu dan kamar tidur yang ukurannya kecil, selebihnya dapur dan kamar mandi juga sangat mini dibagian belakang.

Setelah basuh muka, aku menemani mereka duduk di ruang tamu.

“Wah ternyata Mas Andy ini Kerja di Farmasi ya, boleh dong kapan-kapan kita di jelasin masalah obat Mas?” Luna buka bicara saat aku duduk bersama mereka.

“Tentu boleh, kapan Mbak mau datang aja kesini,” jawabku.

Selanjutnya kami kembali bicara masalah produk susu yang mereka pasarkan. Bergantian bicara, Luna dan Wanda menjelaskan kalau susu yang mereka jual ada beberapa macam dengan kegunaan yang beragam.

Ada susu untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak usia sekolah, balita, bayi, orangtua, pertumbuhan remaja, sampai susu greng untuk menambah vitalitas pria.

Nah, untuk susu penambah vitalitas pria itu, bicara mereka sudah berani agak porno dan mesum, membuat aku blingsatan mendengarnya.

“Hmm, boleh-boleh.. Saya ambil susu grengnya dua mbak, nanti kalau bagus saya tambah lagi lain kali,” aku memotong bicara mereka yang semakin ngawur.

“Nah gitu dong Mas, biar istri Mas senang kalau suaminya greng,” Wanda kembali bercanda.

“Duh.. Mbak, saya belum kawin nih. Maksud saya susu greng itu saya pakai buat kerja, supaya tetap fit kalau kerja,” kataku.

Jawabanku itu membuat mereka saling pandang, lalu keduanya tertawa sendiri.

“Wah kita kira Mas sudah punya istri, ternyata masih bujang. Kok ganteng-ganteng belum laku sih?” Luna menggoda.Gairah sex Suasana terasa langsung akrab bersama dua SPG susu itu.

Mereka pun menceritakan latar belakang mereka tanpa malu kepadaku. Luna, wanita berumur 26 tahun, dulunya karyaWanda sebuah bank, lalu berhenti karena dinikahi rekan sekerjanya.

Tapi kini dia janda tanpa anak sejak suaminya sakit dan meninggal, tiga tahun lalu. Sedangkan Wanda, bernasib sama. Wanita 24 tahun itu, pernah menikah dengan lelaki sekampungnya, tetapi kemudian jadi janda gantung sejak suaminya jadi TKI dan tak ada kabarnya sejak 4 tahun lalu.

Keduanya terpaksa menjadi SPG untuk menghidupi diri.

“Kami malu Mas, sudah kawin masih bergantung pada orangtua, makanya kami kerja begini,” kata Wanda.

“Kalau Mas mau, gimana kalau saya seduhkan susu greng itu. Sekedar coba Mas, siapa tahu Mas jadi pingin beli lebih banyak?” Luna menawarkanku setelah obrolan kami semakin akrab.

Belum sempat kujawab dia sudah bangkit dan menanyakan dimana letak dapur, ia pun menyeduhkan secangkir susu greng buatku. Susu buatan Luna itu kucicipi, lalu kuteguk habis, kemudian kembali ngobrol dengan mereka.

Saat itu jam menunjuk angka tujuh malam. Lima belas menit setelah meneguk susu buatan Luna, aku merasakan dadaku bergemuruh dan panas sekujur tubuh, agak pusing juga.

“Ohh.. Kok saya pusing jadinya Mbak? Kenapa ya? Ahh..,” aku meremasi rambutku sambil bersandar di kursi bambu.

“Agak pusing ya Mas, itu memang reaksinya kalau pertama minum Mas.

Mana coba saya pijitin lehernya,” Wanda pindah duduk kesampingku sambil memijiti tengkuk leherku, agak enakan rasanya setelah jemari lentik Wanda memijatiku.

“Nah, biar lebih cepat sembuh saya juga bantu pijit ya,” Luna pun bangkit dan duduk disampingku, posisiku jadi berada ditengah keduanya.

Tapi, astaga, Luna bukannya memijit leherku malah menjamah celana depanku dan memijiti penisku yang mendadak tegang dibalik celana.

“Ahh Mbaak.., mmfphh.. Ehmm,” belum selesai kalimat dari bibirku, bibir Wanda segera menyumpal dan melumat bibirku.

Gila pikirku, aku hendak menahan aksi mereka tapi aku pun terlanjur menikmati, apalagi reaksi susu sip yang kuteguk memang mujarab, birahiku langsung naik.

Akhirnya kubalas kuluman bibir Wanda, kusedot bibir tipisnya yang mirip Enno Lerian itu.

“Waduh.., gede juga Andy juniornya Mas,” ucapan Luna kudengar tanpa melihatnya karena wajah Wanda yang berpagutan denganku menutupi.

Tapi aku tahu kalau saat itu Luna sudah membuka resleting celanaku dan mengeluarkan penisku yang tegang dari celana.

Sesaat setelah itu, kurasakan benda kenyal dan basah melumuri penisku, rupanya Luna menjilati penisku.

“Ahh.., tidak Mbak.., jangan Mbak,” kudorong tubuh Wanda dan Luna, aku jadi panik kalau sampai ada warga yang melihat adegan kami.

“Ayolah Mas.. Kan sudah tanggung. Nanti pusing lagi loh,” Luna seperti tak puas, Wanda pun menimpali.

“Maksud saya jangan kita lakukan disini, takut kalau ketahuan Pak RT. Kita pindah kekamar aja yah,

” aku mengajak keduanya pindah ke kamar tidurku, setelah mengunci pintu utama kontrakanku.

Sampai di kamarku, bagaikan balita yang akan dimandikan ibunya,gairahsex.com pakaianku segera dilucuti dua SPG itu, dan mereka pun melepasi seluruh pakaiannya.

Wah tubuh mereka nampak masih terawat, mungkin karena lama menjanda.

Sebelum melanjutkan permainan tadi, kuputar lagi lagu Katon Bagaskara dengan volume agak keras supaya suara kami tak terdengar keluar.

Setelah itu, aku rebah dikasurku dan Luna segera mengulangi aksinya menjilati, menghisap penisku yang semakin mengeras.

Luna bagaikan serigala lapar yang mendapatkan daging kambing kesukaannya. Sedangkan Wanda berbaring disisiku dan kami kembali berpagutan bibir, bermain lidah dalam kecupan hangat.

Dalam posisi itu tanganku mulai aktif meraba-raba susu Wanda disampingku, kenyal dan hangat sekali susu itu, lebih sip sari susu sip yang mereka jual kepadaku.

“Oh Mas, saya sudah nggak tahan Mas,” Luna mengeluh dan melepaskan kulumannya dipenisku.

“Ayo Lin, kamu duluan.. Tapi cepat yahh,” Wanda menyuruh Luna.

Wanita bertubuh agak gemuk itu segera menunggangiku, menempatkan vagina basahnya diujung penisku Luna berposisi jongkok dan bless, penisku menembusi vaginanya.

“Ohh.. Aaauhh.. Mass hengg,” Luna meracau sambil menggenjot pinggulnya naik turun dengan posisi jongkok diatasku. Kurasakan nikmatnya vagina Luna, apalagi lemak pahanya ikut menjepit di penisku.

Wanda yang turut terbakar birahinya segera menumpangi wajahku dengan posisi jongkok juga, bibir vaginanya tepat berada dihadapan bibirku langsung kusambut dengan jilatan lidah dan isapan kecil.

Posisi mereka yang berhadapan diatas tubuhku memudahkan keduanya saling pagut bibir, sambil pinggulnya memutar, naik turun, menekan, diwajah dan penisku.

Lima belas menit setelah itu, Luna mempercepat gerakannya dan erangannya pun semakin erotis terdengar.

“Ahh Mass.., sayaa kliimmaakss.. Ohh ammphhuunnhh,” Luna mengejang diatasku, lalu ambruk berbaring disamping kananku.

Melihat Luna KO, Wanda kemudian turun dari wajahku dan segera mengambil posisi Luna, dia mau juga memasukkan penisku ke memeknya.

“Ehh tunnggu Mbak Wanda, tunggu,” kuhentikan Wanda.

Aku bangkit dan memeluknya lalu membaringkannya dikasur, sehingga akulah yang kini diatas tubuhnya.

“Mass.. Aku pingin seperti Luna Masshh.. Puasin aku ya.. Meemmppffhh.. Ouhh Mass,” Wanda tersengal-sengal kuserang cumbuan, sementara penis tegangku sudah amblas dimekinya.

“Ohh enakhhnya memekmu Wanhh.. Enakhh ughh,”

“Engh.. Genjot yang kerass Mass, koontollmu juga ennahhkk.. Ohh Mass,” Wanda dan aku memanjat tebing kenikmatan kami hingga dua puluh menit, sampai akhirnya Wanda pun mengejang dalam tindihanku.

“Amphhunn Mass.. Ohh nikhhmatt bangghett Masshh..,” Wanda mengecup dadaku dan mencakar punggungku menahan kenikmatan yang asyik.

“Iya Wan.. Inii untukkhhmu.. Ohh.. Oohh,” aku pun menumpahkan berliter spermaku ke dalam vagina Wanda.

Setelah sama-sama puas, dua SPG susu itu pun berlalu dari rumahku, kutambahkan dua lembar ratusan ribu untuk mereka. Aku pun kembali tidur dan menghayalkan kenikmatan tadi.



Berbagi Kenikmatan



Berbagi Kenikmatan


Indo55bet Aku kembali ke ruang keluarga untuk pamit dan minta dipanggilkan taxi atau ikut salah satu dari mereka saat pulang nanti, karena jarang sekali taxi yang lewat daerah ini.

“Ly, kami sepakat lanjut, gimana?” tanya salah seorang dari mereka

“Aku sih terserah saja, tapi sama siapa?” tanyaku, mereka saling berpandangan seakan tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dan tak ada yang mengalah untuk memberikan kesempatan ini pada temannya.

Setelah berunding beberapa lama, akhirnya aku usulkan untuk diadakan lelang, dijadiken obyek pelelangan aku sih oke saja. 

Penawar tertinggi akan mendapatkan tubuhku, diluar urusan pembayaran dengan GM, jadi yang dilelang adalah tips yang akan aku terima.

Serempak mereka menulis angka angka di kertas tisu dan menyerahkan padaku sebagai juri. 

Satu persatu kubuka, kuumumkan nama dan jumlah yang ditulis, ternyata angka tertinggi ada 2 orang, masing masing menulis 2,5 juta, yaitu Dikky dan Billy.

Aku tak tahu bagaimana harus menentukan pemenang, bagiku bukan orangnya yang harus kupilih tapi angkanya, toh melayani siapa saja sudah biasa bagiku.

Apakah diundi pakai coin atau suit atau lelang lanjutan, aku benar benar nggak tahu, tapi aku tahu ada potensi untuk mendapatkan angka yang lebih besar dari yang tertulis namun dengan cara yang lebih halus dan tidak terlihat terlalu mata duitan.

Kuminta Dikky dan Billy mendekatiku.

“Sorry lainnya, sebagai juri aku harus menentukan siapa pemenangnya,” kataku pada yang lain
Begitu mereka mendekat, kupeluk mereka berdua dan kuremas selangkangannya seakan menguji seberapa besar yang mereka punya, ini hanyalah untuk mengalihkan perhatian yang lain dan juga untuk membuat kedua orang ini terhanyut dalam skenarioku.

“Aku tahu kamu menikmati saat aku dikeroyok di sofa tadi,” bisikku sambil menatap mata mereka satu persatu meski aku tak yakin betul mereka menikmatinya.

“Kalau masing mau menggandakan apa yang kamu tulis tadi, aku mau menemani kalian berdua bersamaan, pasti jauh lebih heboh dari yang tadi, tapi tidak ditempat ini, kita bertiga aja.. kalau nggak mau aku tawarkan pada yang lain,” bisikku, mereka berpandangan, kuremas remas makin kuat kejantanannya dan kutempelkan tubuhku pada mereka seraya menggeser geserkan buah dada, sekedar menggoyahkan logika mereka supaya menuruti usulanku.

Usahaku berhasil, mereka menyetujui tanpa berpikir lebih lama lagi, tentu saja bagi mereka apalah artinya uang sebesar itu ditambah tarif yang harus dia urus dengan si GM, apabila dibandingkan sensasi yang bakal mereka nikmati.

Kutatap mereka bergantian, hanya anggukan yang kuterima sebagai jawabannya.
 
“Sorry, kami sepakat melanjutkan acara sendiri diluar, kalian nggak keberatan kan?” tanyaku sambil menggandeng Dikky dan Billy keluar tanpa menunggu jawaban dari lainnya, meskipun begitu sempat kudengar teriakan “Huu”, tapi aku tak peduli.

“Fren, bawa mobilku dulu” kata Billy sambil melempar kunci kontak ke arah temannya.

Dengan mengendarai si mata kucing, kami bertiga meluncur meninggalkan kawasan Galaxy menuju hotel terdekat.

“Aku belum pernah main rame rame kayak gini” kata Billy  yang sedang nyetir.

“Aku juga, meski pinginnya sih udah lama” timpal Dikky yang duduk dibelakang.

“Emang aku pernah, gara gara kalian tadi aku jadi pingin nyoba” cetusku berbohong.

“Kalo aku nggak suka boleh mundur kan?” tanya Billy lagi.

“Terserah tapi janji tetap janji seperti yang ditulis tadi,” godaku.

 “Ly, kamu pindah belakang dong, jangan ganggu sopir,” pinta Dikky, kamipun berhenti sebentar dan aku berpindah ke jok belakang, aku tahu maksud dari Dikky menyuruhku pindah.

“Awas kamu nanti, aku balas di kamar, pokoknya aku yang duluan,” ancam Billy sambil kembali menjalankan Mercy-nya dan mengatur kaca spion menghadap ke kami.

Begitu aku duduk di belakang, Dikky memelukku, bersamaan tangannya menjamah buah dadaku bibirnya mendarat di pipi dan leher, aku menggelinjang.

Kusambut bibirnya saat menyentuh bibirku, kulumat dengan penuh gairah. Kaca film yang gelap menyembunyikan perbuatan kami dari pandangan luar.

Tangan Dikky menyelinap dibalik kaosku, aku menolak saat dia minta kulepas, terlalu berani, dengan trampilnya tangan itu melepas kaitan bra dipunggung, buah dadaku sudah bergantung tanpa penyangga lagi, makin gemas dia meremas remasnya. 

Jalanan Kertajaya mulai macet, memberi kesempatan lebih lama pada Dikky untuk menikmati tubuhku lebih dulu, dengan menyingkap kaos hingga ke dada, dia semakin berani dan mengulum kedua putingku bergantian, akupun mendesah dalam nikmat seraya mengeluarkan penisnya, sesaat kulirik mata Billy mengamati kami dari kaca spion, beruntung macetnya jalanan tak terlalu membutuhkan konsentrasi saat nyetir.

Aku tahu sambil melirik Billy meremas remas sendiri kejantanannya yang kuyakin sudah setegang batu karang, namun aku tak bisa memperhatikan lebih jauh saat Dikky menundukkan kepalaku pada selangkangannya.

Sedetik kemudian penis Dikky sudah keluar masuk mulutku, sambil menerima kulumanku, dia tak melepaskan remasannya pada buah dada diiringi permainan di puting.

Tanpa kusadari, aku tidak lagi menolak ketika dia melepas kaosku hingga topless. 

Kulumanku semakin bergairah, desahan Dikky seakan mengundang temannya untuk segera bergabung. Aku tahu dia tak akan bertahan lebih lama lagi, maka semakin kupercepat kulumanku diselingi remasan remasan menggoda, dan.. 

muncratlah spermanya di dalam mulutku, aku tak mau mengeluarkannya, kutahan penis itu tetap berada dimulut hingga habis spermanya.

Banyak sekali sperma yang ditumpahkan ke mulut, meskipun aku berusaha menelan semua tapi tak bisa dihindari beberapa tetes mengalir keluar mengenai celananya, kuremas remas seakan memeras habis sisa sisa sperma yang ada, dia mengerang berusaha menarik kepalaku tapi aku tak mau, malahan kupermainkan lidahku di ujung penisnya.

“Ah disini sajalah, kalian sudah mulai duluan,” kata Billy ketika tiba didepan Hotel Sahid.

“Jangan disini, nggak enak, situ aja di Garden Palace, lebih asik,” usulku ketika dia hendak belok kanan memasuki area hotel Sahid, aku masih menjilati sisa sisa sperma yang masih ada di penis Dikky.

Ketika mobil memasuki halaman parkir Garden Palace, aku masih bertelanjang dada di pangkuan Dikky, dari belakang dia meremas remas buah dadaku sambil mencium dan menjilati punggungku seakan tak pernah bosan untuk menjamah tubuhku.

Entahlah apakah tukang parkir yang mengatur parkir bisa melihatku telanjang atau tidak karena kaca depan memang terang. 

Segera aku turun dan mengenakan kaosku tanpa bra yang sudah dikantongi Dikky, bertiga kami menuju Lobby, Billy menggandengku dan menunggu di sofa saat Dikky check in di meja Receptionis.

Kuamati Lobby hotel yang sempat menjadi “rumahku” selama 3 bulan saat aku menjadi “simpanan” 

Koh Wi, tak banyak yang berubah bahkan mungkin tak ada yang berubah, beberapa bell boy dan satpam masih kukenali dan mereka tampaknya masih mengenali aku, mungkin karena penampilanku memang tak banyak berubah.

Sesampai di kamar di lantai 14, Billy yang dari tadi sudah menahan birahinya, langsung memelukku hingga kami terjatuh ke ranjang. Bukannya berhenti malah semakin ganas menggumuliku, dengan kasar ditariknya lepas kaosku dan dilempar ke arah temannya.


Celanakupun meninggalkanku tak lama kemudian, aku telanjang didepan kedua pria yang masih berpakaian lengkap, sesaat mereka membiarkanku telentang sendirian di ranjang. Dengan tergesa gesa Billy melepas pakaiannya, begitu telanjang dia langsung melompat ke atasku, kusambut dengan pelukan dan ciuman hangat, bibir dan lidah kami saling bertaut menyalurkan getar getar birahi. 

Begitu ganas Billy mencumbuiku, entah karena tipenya atau karena tak mampu lagi menahan birahi sejak kejadian di rumah Indra tadi, yang jelas ciumannya sangat liar, namun justru membuatku semakin bergairah. Lidahnya menyusuri tubuhku, dari leher turun dan berhenti di buah dada dan turun lagi hingga selangkangan tapi dia tidak melakukan oral, mungkin masih ragu karena sperma temannya telah membasahi saat di rumah Indra, ciumannya kembali naik setelah sampai di klitoris.

Kami berpelukan bergulingan hingga hampir jatuh, kuminta dia telentang dan diam saja menikmati kenikmatan yang akan kuberikan.

Mula mula kujilati putingnya, aku membalas seperti apa yang dia lakukan padaku tadi, dia masih terdiam menahan desahan, namun begitu lidahku menyentuh lipatan pahanya, desahan lirih mulai terdengar dan semakin keras ketika kuremas kejantanannya sambil menjilati kepala penisnya yang tidak disunat.

Akhirnya diapun mendesah lepas saat lidahku menjilati dan menyusuri sekujur batang kemaluan hingga ke kantong bola dan menyentuh lubang anus. Kubuka lebar dan kuangkat kakinya ke atas hingga aku lebih bebas menjilati daerah seputar lubang pembuangannya, dia menjerit semakin keras tak menyangka mendapat servis seperti itu, servis yang tak kuberikan pada temannya sebelumnya, apalagi tanganku tak pernah berhenti mengocok penisnya.

Kurasakan elusan di punggungku, ternyata Dikky sudah telanjang bersiap ikutan menikmati tubuhku, kuminta dia telentang di samping Billy untuk mendapatkan servis yang sama, tapi dia menolak, malahan menciumi pantatku yang sedang nungging. 

Dikky menciumi vaginaku dari belakang, sesekali menyentuh lubang anusku, seperti halnya Billy, akupun tak menyangka dia akan melakukan itu, akupun mendesah sambil menjilati Billy.

Cukup lama aku menjilat dan dijilat di tempat yang sama, kemudian kurasakan penis Dikky menyapu vaginaku dari belakang disusul dorongan pelan menguak liang kenikmatanku. 

Aku beranjak dari posisiku, belum tiba saatnya, aku ingin pemanasan yang lama dengan dua laki laki ini, kurebahkan tubuhku telentang disamping Billy dan kubuka kakiku lebar mengundang untuk dikulum. 

Billy yang dari tadi cuma telentang, menyeDikkot posisi temannya, dia segera menyusupkan kepalanya di selangkanganku, rupanya dia ingin membalas perlakuanku. 

Aku mendesah nikmat dikala bibir dan lidahnya menyentuh klitorisku, dan semakin keras saat Dikky ikutan mendaratkan lidahnya pada putingku bergantian.

Dua lidah laki laki bermain di kedua daerah sensitifku, sungguh kenikmatan yang tak terbayangkan, begitu indah rasanya, apalagi permainan lidah Billy tak kalah liar dengan Dikky menari nari di vagina, kukocok keras penis Dikky yang berada dalam genggamanku, diapun ikutan mendesah.

Dikky menggumuli bagian atas tubuhku dengan penuh gairah, mengulum putingku, melumat bibir sambil meremas kedua buah dadaku, menciumi leher hingga kembali ke puting, rasanya tidak satu centi-pun tubuhku yang terlewatkan dari sapuan bibir dan lidahnya. 

Billy yang berada dibawah juga tak kalah liarnya, menyusuri bagian bawah, dari jilatan di klitoris menyebar ke bibir vagina hingga ke lipatan paha dan paha dalam terus kembali lagi ke vagina dan sekitar dubur. 

Semua dia lakukan bersamaan dengan temannya, seperti paduan antara keahlian dan gerak tari lidah yang terpadu di atas tubuhku, sungguh permainan yang penuh gelora birahi tinggi.

“Oke siapa duluan,” tantangku setelah merasakan serbuan liar bertubi tubi dari bibir dan lidah mereka, agak kewalahan juga menikmati permainan oral mereka. Mereka berpandangan seakan tidak ada yang mau ngalah.

“Kamu berunding aja dulu dan jangan berantem, semua pasti kebagian, tunggu dulu ya,” kataku menggoda sembari turun dari ranjang mengambil kondom dari tas Eigner-ku yang selalu ready.

“Pake ini dulu, kecuali kalian mau sama sama nggak pake,” kataku sambil meletakkan beberapa bungkus kondom di atas ranjang dan aku kembali telentang menunggu siapa yang beruntung mendapatkan vaginaku terlebih dahulu.


“Kamu yang pilih deh,” kata Billy.

“Nggak,” jawabku singkat sambil mendesah pelan, mempermainkan klitorisku sendiri dengan tangan, selain untuk menggoda mereka, aku tak mau gairahku drop hanya karena menunggu mereka berebut, tentu saja kedua laki laki itu semakin sengit berebut. Mereka berunding berbisik, aku tak peduli sambil mendesah semakin keras melanjutkan kocokan jariku yang sudah keluar masuk vagina.

“Guys, please” pintaku disela desahan melihat mereka belum juga mau mengalah.

Tak sabar menunggu mereka, akhirnya aku turun dari ranjang dan jongkok diantara tubuh telanjang mereka, kugenggam kedua penis yang mulai melemas.

“Kamu lanjutkan rundingannya,” kataku seraya memasukkan salah satu penis ke mulutku, mereka terdiam dan berganti dengan desahan nikmat.

“Yang keluar duluan, kalah,” kataku melanjutkan kulumanku. Bergantian dua penis itu keluar masuk ke mulut, aku semakin mempercepat kocokanku. Bersamaan mereka mendesah semakin keras menikmati permainan lidahku yang menyusuri batang batang menegang secara bergantian.

Bisa ditebak, Billy yang sedari tadi nafsunya sedang meluap luap tanpa pelampiasan, segera memenuhi mulutku dengan spermanya, diiringi teriakan kenikmatan. Kenikmatan yang sudah dia tunggu dan harapkan sedari tadi.

Dikky segera menggandengku ke ranjang, meninggalkan Billy yang duduk terengah engah setelah merasakan orgasme di mulutku. Aku telentang menanti cumbuan lanjutan dari Dikky yang sudah bersiap di atas tubuh telanjangku.

Seperti kebanyakan tamuku lainnya, dia tidak langsung menyetubuhiku tapi menikmati setiap bagian dari tubuhku dengan bibir dan lidahnya.

Tanpa mempedulikan aroma sperma dari mulutku, dilumatnya bibirku hingga lidah kami bertaut menyatu, disusul dengan sapuan bibir menyusuri leher dan berhenti pada kedua bukit di dada. Aku menggelinjang saat kuluman dan sedotan lembut menerpa putingku, disela remasan dan jilatannya, akupun mendesah geli bercampur nikmat.

Kurasakan ranjang bergoyang, ternyata Billy tak mau berdiam diri melihat temannya telah membuatku menggelinjang penuh nafsu, dia duduk disampingku, meraba raba dan meremas remas buah dadaku, berbagi dengan temannya.

Setelah mengusap sisa ludah Dikky, Billy mendaratkan bibir dan lidahnya pada putingku. kini dua mulut dan lidah menari nari pada putingku, akupun semakin menggeliat tak karuan mendapatakan kenikmatan ganda seperti ini, suatu kenikmatan yang tak bisa digambarkan, apalagi gerakan mereka tidak sama antara menjilat dan menyedot, sungguh pengalaman yang luar biasa.

Desahanku semakin tak terkontrol ketika bersamaan jari jari tangan mereka menyeruak masuk ke liang kenikmatanku, akupun kembali menggeliat hebat, empat stimulus berjalan bersamaan, dua di puting lainnya di klitoris dan vagina, tak terbayangkan kenikmatan yang kudapatkan.

Kuraih kedua penis mereka yang mulai menegang, kuremas dan kukocok dengan cepat, hanya itulah yang bisa kulakukan selain mendesah.

Dikky sudah mengambil posisi diselangkanganku selagi Billy masih asik melumat bibir dan lidahku, dan.. bless, tanpa kesulitan penis Dikky meneDikkos memasuki vaginaku yang sudah basah, aku terhenyak sejanak merasakan penisnya memenuhi liang kenikmatanku, namun hanya beberapa detik kembali saling kulum dengan Billy disaat Dikky mulai bergerak keluar masuk. Agak susah aku membagi konsentrasi antara kocokan di bawah dan kuluman di atas, apalagi ketika Billy bergerak mengulum putingku bergantian.

Kedua laki laki itu menikmati tubuhku dengan caranya masing masing sesuai porsi yang ada. Beberapa menit mereka mengocok dan mengulum, baru kusadari kalau Dikky tidak memakai kondom tapi aku diam saja, toh ini bukan pertama kali laki laki menyetubuhiku tanpa kondom meskipun kebanyakan lebih menyukai memakainya, demi kesehatan, katanya.

Billy beranjak ke atas, menyodorkan penisnya ke mulutku, kesempatan ini tak disia siakan Dikky, segera dia telungkup menindihku sambil menciumi leher dan telinga, tubuh kami menyatu terpatri birahi. Sejenak aku terlupa penis Billy yang sudah sudah menegang di samping wajahku. 

Billy menyodorkan penisnya ke mulutku yang tengah menengadah merasakan nikmatnya kocokan Dikky, aku baru tersadar kalau masih ada satu penis lagi yang harus aku handle, segera kuraih dan dengan agak susah karena posisi tubuh Dikky yang di atasku, akupun mengulum penis Billy sembari menerima kocokan Dikky yang semakin keras dan liar. Billy tak mau hanya menerima kulumanku saja, diapun ikutan mengocokku, kini aku mendapat 2 kocokan sekaligus di atas dan di bawah.

Sebenarnya kenikmatan yang kudapat biasa biasa saja, namun sensasi yang ditimbulkan membuat kenikmatan yang biasa biasa saja menjadi luar biasa, akupun dengan mudahnya terhanyut dalam irama permainan birahi yang penuh nafsu, melambung tinggi ke awan kenikmatan.

Tanpa mempedulikan sobatya yang tengah asik mengocok mulutku, Dikky membalik tubuhku hingga nungging, Billy menyesuaikan dengan posisi baru, dia duduk di depanku disaat Dikky mengocokku dengan posisi dogie.

Kembali aku menerima dua kocokan sekaligus, kali ini aku lebih bebas bergerak baik untuk mengimbangi kocokan Dikky di vagina maupun gerakan kepalaku pada penis Billy.

Gerakan Dikky semakin bebas dan liar, akupun mengimbangi keliarannya dengan goyangan pantat dan kepala, bersamaan kami mendesah nikmat membentuk suatu simfoni penuh nafsu.

“Dikk, tukar,” pinta Billy beberapa menit kemudian.

Tanpa menunggu jawaban mereka, aku segera memutar balik tubuhku, pantat ke arah Billy dan kepala pada selangkangan Dikky. 

Dikky lebih dulu memasukkan penisnya yang basah cairan vagina ke mulutku, disusul Billy pada vaginaku sedetik kemudian. 

Tak ada perbedaan rasa antara penis Dikky dan Billy saat memasuki vaginaku, tak ada yang istimewa pada mereka, seperti penis pada umumnya dengan ukuran rata rata, hanya permainan Billy lebih halus dibandingkan temannya, justru itu yang membuatku seperti nggak sabar melihat dia mengocokku dengan pelan sementara kocokan mulutku bergerak liar hingga mulutku kewalahan menerima kocokannya.

“Bill, jangan dikeluarin di dalam,” kata Dikky beberapa menit kemudian setelah dia tahu temannya itu tak mengenakan kondom. 

Tapi terlambat, hanya beberapa detik setelah Dikky mengingatkan, Billy menjerit dalam orgasme, kurasakan denyutan kuat menerpa dinding vaginaku. Sesaat kuhentikan kulumanku pada Dikky untuk menikmati gempuran demi gempuran yang kuterima begitu nikmat.

“Ya kamu gimana sih, sudah dibilang keluarin diluar,” protes Dikky melihat sobatnya telah mendahului menumpahkan spermanya di vaginaku, meskipun tak sebanyak saat oral tadi.

“Sorry Dikk, tanggung, habis enak banget sih,” jawabnya sembari mengusap usapkan sisa sisa spermanya di pantat.

“Sialan kamu ini, masa nggak bisa nahan sih,” gerutunya, rupanya dia mulai drop, perlahan penisnya yang masih dalam genggamanku melemas.

“Ya udah nggak usah ngambek gitu sama teman, aku bersiin dulu,” kataku lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi, namun sebelumnya kukulum dulu penis Billy yang masih basah dengan spermanya.

Selagi aku jongkok di bathtub membersihkan vaginaku, Dikky menyusul ke kamar mandi masih menggerutu.

“Tahu gitu kusuruh pake kondom dari tadi,” omelnya.

Aku hanya tersenyum melihat dia masih uring uringan, kuraih kejantanannya yang lemas dan kubelai sambil menciumi, perlahan menegang dan meluncur masuk ke mulutku. 

Sambil membersihkan vagina, aku melakukan oral pada Dikky, dengan bebasnya dia mengocok mulut tanpa pegangan tanganku yang masih sibuk di vagina.

“Sudah bersih nih kalau mau lanjut,” kataku disela sela kulumanku.

Tanpa banyak bicara Dikky ikutan masuk ke bathtub, dibaliknya tubuhku nungging membelakanginya, meski agak susah karena tempatnya sempit, kubuka kakiku saat Dikky mulai menyapukan kepala penisnya ke vagina.

Cukup satu dorongan keras untuk melesakkan penisnya ke dalam, hanya dengan satu sodokan telah membawaku kembali melayang mengarungi bahtera birahi, aku terdongak sesaat terkaget mendapati kekasaran dia, namun kurasakan kenikmatan dibalik kekasaran sodokan itu.

Meskipun bercinta di bathtub yang cukup sempit untuk tubuh kami berdua, namun terasa justru semakin erotis, apalagi ketika tanpa sengaja tanganku memegangi kran air hingga menyemburlah air dari shower di atas. 

Kami terkaget sejenak saat air itu membasahi tubuh kami yang tengah mendayung nikmat, tapi Dikky mencegah ketika akan kumatikan pancuran itu.

“Biar lebih asik,” katanya tanpa memperlambat kocokannya.Gairahsex
Tubuh kami basah kuyub, antara keringat nafsu dan dinginnya siraman shower, kami justru semakin bergairah.

Tak lama kemudian, akupun sudah berganti bergoyang pantat di pangkuan Dikky, penisnya serasa semakin mengaduk aduk isi rahimku, masih dengan iringan siraman air shower yang kini sudah diatur hangat, sungguh sensasi yang luar biasa.

Desahan kami saling bersahutan diiringi gemericik air yang membasahi tubuh kami, tak bisa dipungkiri aku sungguh menikmati permainannya. Tak terasa sudah 2 kali kugapai orgasme saat dia menyetubuhiku di bathtub.

“Dikk, gantian dong,” suara Billy mengagetkanku, rupanya aku terlalu terhanyut dalam alunan birahi hingga tak memperhatikan Billy yang berdiri di pintu kamar mandi, tengah mengamati kami sambil meremas remas penisnya yang telah tegang.

Sambil tetap bergoyang pinggul, kubantu Billy meremas dan mengocok penisnya, ingin kukulum dan kulumat penis itu tapi posisiku tak memungkinkan melakukannya, kecuali Dikky mau penis Billy menempel di kepalanya.

Satu penis mengaduk aduk vagina, satu mulut bergantian mengulum dan menggigit ringan putingku dan satu penis berada dalam genggamanku, semua terjadi secara bersamaan. Akan lebih nikmat lagi bila penis digenggamanku itu bisa mengisi mulutku.

Kami mengatur posisi supaya Billy bisa ikutan bergabung, dan itu tidaklah terlalu sulit meski bathtub yang kecil menghalangi gerakan kami, dan tak lama kemudian dua penis sudah mengocok kedua lubang tubuhku bersamaan, diiringi siraman hangatnya air shower, sungguh pengalaman yang lain daripada sebelumnya. 

Aku yang sudah diatas awang awang kenikmatan semakin cepat mendaki menuju puncak, hanya beberapa menis setelah penis Billy mengocok mulut, akupun orgasme untuk kesekian kalinya dipangkuan Dikky.

Walaupun lututku serasa semakin melemas, aku berusaha tetap bergairah dan menggoyang di atasnya, beruntunglah Dikky menyusulku tak lama kemudian menggapai puncaknya. 

Tapi episode ini ternyata belum berakhir, Billy segera mengganti posisi temannya sesaat setelah Dikky mengeluarkan penisnya. 

Lututku serasa benar benar copot, kupaksakan untuk bertahan beberapa saat lagi. Siraman air shower masih deras membasahi tubuhku saat aku mengambil posisi merangkak di bathtub, bersiap menerima sodokan Billy dari belakang.

Untuk kesekian kalinya penis itu kembali mengisi dan menyodok keluar masuk vaginaku, kali ini aku benar benar tak mampu mengimbangi gerakannya, hanya pasrah menerima sodokan demi sodokan dari belakang, bahkan ketika Billy menyemprotkan sisa sisa spermanya di vagina, aku sudah tak bisa merasakan lagi kenikmatan denyutannya, terlalu capek untuk menikmatinya.

Setelah beristirahat cukup lama dan memberiku kesempatan recovery, kami mainkan satu babak lagi dengan permainan satu satu dan diakhiri dengan bermain bertiga lagi.

Sebelum tengah malam mereka meninggalkan kamar hotel, meninggalkanku sendirian di kamar, ternyata mereka masih anak mama yang takut untuk menginap di luar rumah tapi sudah berani untuk booking.



Join Us on Facebook

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. cerita sex - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger